Minggu, 05 November 2017

Sains Islam Bukan Mitos [2]

Fakhruddin al-Razi berpendapat, ilmu alam memiliki prinsip-prinsip yang menjadi dasar kepada pembuktian kepada ilmu alam itu. Prinsip-prinsip itu berasal dari ilmu metafisika dan agama (asy syariat ilahiyah) yang diwahyukan kepada para nabi.

sain islam bukan mitos bagian 2

Dunia Islam pernah memiliki seorang saintis Muslim yang sangat hebat, yaitu Fakhruddin al-Razi. Seorang saintis yang mufassir. Adnin Armas menjelaskan al-Razi telah menulis tentang filsafat, metafisika, kimia, astronomi, fisika dan lain-lain. Ratusan buku telah ia tulis dan salah satunya karyanya yang terkemuka adalah kritiknya tentang Sains Aristotelian. Al-Razi mengiritik konsep Aristotelian tentang esensi benda, esensi gerak, waktu dan esensi ruang. Ia adalah peletak sains non Aristotelian yang kemudian banyak diikuti ilmuan Barat.

Dalam kuliahnya, Paul Lettinck menjelaskan kronologi sebuah teori dari era Yunani, Arab hingga sains modern. Ia menguraikan sebuah teori ilmu astronomi dengan detil dilengkapi gambar-gambar dan rumus-rumus fisika dan matematika. Secara khusus, astronomi, jelas Lettinck menjadi subjek yang sangat ditekankan untuk dipelajari oleh saintis Muslim. Dari teori bumi sebagai pusat tata surya (Ptoleumi) hingga matahari sebagai pusat tata surya diuraikan dengan cukup detil.


Penjelasan kronologis teori optic misalnya, dari era Yunani hingga Ibnu Haitsam, menunjukkan bagaimana perkembangan teori optic di dunia Islam cukup pesat. Teori yang belum mapan di era Yunani kemudian disempurnakan oleh Ibnu Haitsam dan Ibn Sahl dengan baik.

Teori para saintis Muslim tersebut tidak pernah melepaskan dari nilai ketuhanan. Ibnu Haitsam misalnya, ketika mengamati alam dia menjadikan sifat-sifat Allah Subhanahu Wata’ala sebagai asumsi. Artinya, seperti dijelaskan oleh Hamid Fahmy Zarkasyi, sains Islam hanya bisa terwujud jika worldview saintisnya sudah Islami. Memang, setiap sains bermula dari metode dan teori hingga produk-produknya yang semuanya tidak netral.

Dalam worldview Islam, realitas tertinggi adalah Tuhan, dan menjadi asas paling dasar dalam aktivitas berpikir termasuk aktivitas keilmuan. Memahami Islam sebagai pandangan hidup berarti memandang Islam sebagai susunan konsep tentang seluruh aspek yang melingkupi kehidupan manusia. Konsep-konsep yang berasas kepada ketuhanan difahami oleh akal manusia dan akhirnya menjelma menjadi disiplin pengetahuan dan pengamalan manusia. Dalam menjalani kehidupan beragama ini, seorang Muslim memiliki pandangan-pandangan terhadap konsep kehidupan, manusia, akhlak, ilmu alam dan lain sebagainya.

Jika konsep-konsep yang berpusat dengan konsep Allah ini berfungsi menjadi alat utama memandang sesuatu, maka seorang Muslim memandang realitas ini dalam kesatuan konsep yang berpusat kepada Tuhan. Maka, apapun keahlian ilmu seorang Muslim; fisikawan, ahli kedokteran, insinyur, ahli ekonomi, teolog, ahli falsafah, faqih, dan lain-lain, jika menggunakan Islam sebagai pandangan hidup, maka ilmu yang terpancar dari akal fikirnya menjadi kekhasan tersendiri sebagai seorang ilmuan Muslim

Seorang saintis Muslim misalnya, dia melakukan kerja-kerja sains-nya, atau aktifitas keilmuannya dengan selalu merasa bersama AllahSubhanahu Wata’ala. Ketika ia merasa bersama Allah Subhanahu Wata’ala itulah dia menggunakan pandangan-pandangan keilmuannya terkait dengan-Nya. Dia melihat peristiwa alam bukan sekedar realitas yang terjadi secara ‘otomatis’. Tapi dia meyakini bahwa dalam peristiwa alam itu ada kuasa Allah Subhanahu Wata’ala. Bahwa alam itu merupakan tanda (alamah) akan kewujudan agung Allah Subhanahu Wata’ala.

Fakhruddin al-Razi berpendapat  bahwa ilmu alam memiliki prinsip-prinsip yang menjadi dasar kepada pembuktian kepada ilmu alam itu. Prinsip-prinsip itu berasal dari ilmu metafisika dan agama (asy syariat ilahiyah) yang diwahyukan kepada para nabi.

Al-Razi sama dengan Imam al-Ghazali, menyatakan bahwa yang menyebabkan terjadinya sesuatu di alam ini adalah Yang Menentukan (Allah). Ini beda dengan pendapat Aristoteles (yang kini diikuti Barat yang berfaham materialisme). Bagi al-Razi, waktu adalah apriori (sudah terbukti dengan sendirinya, bukan iktisabi/ikhtiar manusia). Waktu ada sekalipun gerak tiada. Allah keberadaannya di luar waktu, Allahqiyamuhu binafsihi. Allah yang menciptakan alam, maka Allah lebih dulu dari alam (ini bukan dari sisi waktu, karena Allah di luar waktu). Allah tiap saat selalu mencipta.

Sains di dunia Islam pernah jaya, maka tugas kita melanjutkan, meneruskan dan menyusun proyek besar menyusun basis-basis sains Islam. Dimulai dengan internalisasi filsafat sains Islam, Islamic Worldview dan tentu saja perlu adanya komunitas saintis Muslim. Wendi Zarman yang dosen Fisika itu, dalam seri kuliah sains Islam kemarin sudah mengingatkan salah satu sebab kenapa masih banyak yang menolak sains Islam adalah karena kita belum punya scientis community. Komunitas ini harus dihidupkan agar sains Islam kita wujud. 

Sumber : https://www.hidayatullah.com 
Penulis : A. Kholili Hasib
Share This
Previous Post
Next Post

0 komentar: